MK-160: Media Komunitas 160 Karakter



MK160Angkringan.jpg

Media Komunitas Angkringan di Yogyakarta sudah gerah mendegarkan media arus utama yang seringkali pesan pesannya tidak ada hubungannya dengan masyarakat lokal. Sejak berdiri tahun 2000 komunitas ini selalu mendorong inisiatif pemberdayaan masyarakat akar rumput melalui radio komunitas (rakom), kini mereka ingin media untuk rakyat dan dari rakyat ini diperkuat dengan pertukaran informasi via telpon genggam. MK Angkringan pikir teknologi pesan layanan pendek (SMS) bisa dimanfaatkan lebih optimal apabila dipadu dengan piranti lunak khusus sehingga dapat digunakan dalam pengelolaan konten dan alat interaksi antara pengelola dan pengguna. Sebelumnya MK Angkringan juga mendukung tersediannya internet murah via upaya KUSIR = Komputer Untuk Sistem Informasi Rakyat menggunakan wajan bolik, kini mereka tertarik untuk SMS sebagai teknologi tepat guna.

MK160logo.png

Mereka menamakan inisiatif mereka MK-160: Media Komunitas 160 Karakter dan terdaftar pada Cipta Media Bersama sebagai permintaan hibah bernomor urut 0579 pada 15 September 2011. Rencananya pesan singkat (SMS) pada telepon genggam digunakan sebagai informasi komunitas dalam kategori Keadilan dan Kesetaraan Akses terhadap Media dengan total permintaan dana sebesar 150 juta rupiah. Setelah melalui proses penajaman proposal dan evaluasi anggaran pada 8 November 2011 saat penerima hibah Cipta Media Bersama diumumkan, proyek ini dinyatakan sebagai salah satu dari 20 penerima hibah.

Inisiatif MK-160 dikabulkan karena dianggap memiliki gagasan yang sederhana, tepat sasaran, menggunakan teknologi tepat guna, serta mencerminkan semangat partisipatoris dari dan untuk masyarakat sehingga berpotensi besar untuk dimultiplikasi dan dikembangkan di kelompok masyarakat yang lain. Proyek ini juga dilengkapi proposal dan anggaran yang menunjukkan keselarasan antara permasalahan, solusi, dan pelaksanaan teknis.

Anda dapat mengikuti pranala proposal lengkap apabila anda ingin membaca lebih lanjut, dan pranala untuk anggaran rinci MK 160. Setelah mendapatkan hibah mereka lalu mengadakan sosialisasi sambil mengembangkan perangkat lunak pamungkas untuk SMS. Stiker nomor yang dapat di SMS ditempelkan ditempat tempat umum yang mudah terlihat seperti gardu ronda (gambar). Kemudian sambil menunggu, MK Angkringan juga mendata penduduk, dalam proposalnya mereka ingin mendata Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, DIY yang berpenduduk lebih dari 20.000 jiwa. Kemudian mereka menunggu lagi hingga perangkat lunaknya siap dikembangkan sebelum melakukan uji-coba. Apa hambatannya? Dari perangkat lunaknya sendiri hingga yang paling berat – menurut mereka – adalah berubahnya kebijakan broadcast SMS, hingga salah hitung tarif SMS. Sebagai persiapan naiknya harga SMS untuk melakukan broadcast ke nomor yang berbeda Mbak Ambar Dewi mulai menghitung hitung kebutuhan dana hanya untuk percobaan uji coba SMS “Anggarannya ngga cukup nih.” Katanya sambil menyeringai lebar.

MK160-joint.jpg

Tidak hanya persoalan anggaran, saat kebijakan berubah, nomor yang digunakan juga diblokir tanpa pemberitahuan lebih dahulu. Ini mengakibatkan seluruh stiker yang sudah ditempelkan ditempat tempat umum jadi tidak dapat digunakan karena nomornya ganti. Awalnya MK Angkringan sempat ketar-ketir saat menggunakan nomor baru, namun ternyata hal ini menjadi pelajaran baru karena masyarakat mengenali MK 160 bukan dari nomornya, namun dari rapat dan kunjungan yang dilakukan sebelumnya. Hal ini diketahui dari balasan SMS masyarakat yang menyampaikan salam dan memberi tanda bahwa mereka masih ingat!

MK Angkringan tidak membuat segala kesulitan menghambat, malah mereka jadi sadar bagaimana SMS itu ternyata mahal, dan rakyat kecil tampak seperti mensubsidi orang yang mampu. Dengan semangat komunitas ini tetap fokus mengulak alik data dan perangkat lunak. Mereka percaya karya anak negeri yang didesain untuk dipakai sesuai kebutuhan lokal dapat bermanfaat untuk banyak, apalagi niat awal dalam proposal adalah agar upaya ini dapat direplikasi oleh rakom rakom yang lain.

Mereka berjanji apabila usaha ini berhasil bahwa; 1) Keseluruhan proses akan didokumentasikan dan dikemas menjadi panduan berupa teks dan audio visual; 2) Seluruh hasil upaya berupa aplikasi, panduan dan dokumentasi akan dirilis dengan lisensi Creatif Commons dan diunggah pada situs: angkringan.web.id sehingga bisa digunakan oleh siapapun secara bebas; terakhir 3) Secara khusus proyek ini akan memfasilitasi 10 anggota komunitas anggota JRKI untuk mereplikasikan sistem ini dikomunitas masing – masing.

Dalam twitternya komunitas ini cukup percaya diri bahwa SMS MK 160 karakter ini “lebih canggih dari twitter”. Apabila anda ingin mengetahui seperti apa bentuk data yang dikembangkan, silahkan klik gambarnya.

Tidak hanya data apakah penduduk merupakan anggota dari Karang Taruna, ataupun Kelompok Tani Kampung, MK160 juga mendata golongan darah, umur, dan pekerjaan. Terbayang apabila seluruh data terkumpul dan terus menerus diperbaharui, MK Angkringan yakin bahwa potensinya besar sekali. “Kita dapat mempertemukan orang yang butuh keahlian tertentu dengan orang yang memiliki keahlian tersebut di tingkat lokal. Ini berarti pekerjaan.”

Mereka yakin apabila teknologi tepat guna ini mulai dimanfaatkan, peluang informasi tidak hanya mengenai pekerjaan, tetapi juga untuk menyelamatkan nyawa orang dimana teknologi mampu mempertemukan orang yang butuh golongan darah tertentu dan orang yang tinggal tidak jauh karena datanya sudah tersedia.

Selamat uji coba MK160, semoga berhasil menuju masyarakat yang berdaya dan menularkan ilmunya!

Tags:

admincmb
30 Dec 2012


December 2012 | CC BY-SA 3.0