Sulitkah Bagi Kaum Difabel untuk Bersekolah dan Mencari kerja?



Sulitkah-Bagi-Kaum-Difabel-e1419631924507.jpg

Agus Budianto terlahir dengan kondisi difabel dari sebuah keluarga biasa. Ayahnya hanya seorang buruh tani dan ibunya penjual makanan keliling. Di antara saudara-saudaranya, hanya Agus dan adiknya yang bersekolah sampai SMA, itu pun dengan susah payah, mulai dari dibantu kakak-kakaknya sampai sekolahnya sendiri.

Bagi seorang difabel seperti Agus, sangat sulit mencari sekolah yang bersedia menerimanya. Saat mendaftar di SD, ia berulang kali mengalami penolakan. Mereka tidak bisa menerima anak berkebutuhan khusus karena tidak ada sarana dan prasarana pendukung. Sekolah luar biasa memang ada, tetapi lokasinya jauh dari rumah sehingga diperlukan orang untuk mengantar dan hal itu membutuhkan biaya yang tidak murah. Pada usia sebelas tahun, Agus akhirnya diterima di sebuah SD yang tak jauh dari rumahnya. Pendidikan di tingkat SD dan SMP pun dilalui Agus dengan sukses. Namun, ketika mendaftarkan diri di SMA Negeri, Agus kembali mengalami penolakan. Ia akhirnya bersekolah di SMA Swasta.

Setelah lulus SMA Agus memutuskan untuk bekerja karena tidak ada biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Ia sempat bekerja di jasa pengetikan dan warung telepon. Sayangnya, kedua tempat tersebut gulung tikar karena sudah banyak orang yang mempunyai komputer dan ponsel dengan harga murah. Kemudian, Agus masuk ke pusat rehabilitasi karena tidak tahu harus bekerja apa untuk mencukupi kebutuhannya. Setelah mendapat pelatihan di pusat rehabilitasi, ia bekerja di beberapa lembaga swadaya masyarakat dan yayasan sosial.

Beberapa bulan yang lalu Agus melamar pekerjaan di Komunitas Sanggar Saujana yang merupakan penerima hibah Cipta Media Seluler. Saat melamar pekerjaan, Agus mengatakan bahwa ia rela melakukan pekerjaan apa pun dan dibayar berapa pun asalkan bisa mencukupi kehidupan sehari-harinya di Yogyakarta. Melihat bahwa Agus mempunyai kemampuan di bidang desain grafis, komunitas tersebut tergerak untuk mempekerjakannya dan mencoba menggalang dana melalui Facebook dan Twitter untuk membayar gaji Agus selama satu tahun.

Poster penggalangan dana untuk Agus bisa lihat di sini.

Tags:

Hillun Vilayl Napis
17 Nov 2014


November 2014 | CC BY-SA 3.0