Village Video Festival

344

344 - Village Video Festival


Nomor:
344

Inisiator:
Jatiwangi Art Factory

Organisasi:
Jatiwangi Art Factory

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat

Dana:
400 Juta Rupiah

Topik hibah:
Pemantauan media

Masa Aktivitas:
18 – 31 Desember 2011

Deskripsi Proyek:
Village Video Festival merupakan festival residensi videomaker internasional. Videomaker disini termasuk pembuat film, seniman yang biasa menggunakan media audio visual, video documentator atau bidang profesi lain yang juga menggunakan media audio visual sebagai pendekatan atau karyanya. Videomaker diajak untuk residensi selama 2 minggu. Disebar ke berbagai desa, ditempatkan di rumah penduduk untuk berkolaborasi bersama warga, komunitas, ataupun pemerintahan desa, melakukan berbagai pendekatan, hingga selanjutnya dapat membuat sebuah karya kolaboratif sebagai cara untuk mengarsipkan kehidupan desa dan warganya.<br /> Bekerjasama dengan ruangrupa initiative, Village Video Festival 2011 melibatkan 5 Negara dengan 4 partisipan dari Indonesia dan 4 participant dari Negara lain dan di kuratori oleh Ade Darmawan. Tema yang dipilih pada tahun ini adalah “TV PROGRAM”. Pemilihan tema “TV PROGRAM” berangkat dari kesadaran akan intensitas informasi dari televisi yang menjadi satu-satunya hiburan alternatif bagi warga desa. Televisi seakan menjadi satu-satunya jendela bagi warga untuk melihat ke luar desa mereka (kota). Banyaknya televisi yang terus-terusan menyuguhkan tayangan-tayangan yang menyebabkan kepanikan masal, sehingga pemirsa tidak diberi kesempatan untuk berpikir jernih dan konsentrasi dalam kehidupan kesehariannya, disadari atau tidak, membuat masyarakat menjadi konsumtif. Sebagai agen yang membangun kesadaran media, festival ini juga dirancang untuk sarana berlatih warga desa menghadapi kepanikan-kepanikan yang dikondisikan televisi secara semena-mena dalam informasi, tayangan dan iklan-iklan. Bukan untuk melawannya, tapi untuk kemudian bisa memilih dan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan warga desa tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.<br /> Pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka oleh Jatiwangi art Factory bekerjasama dengan Sunday Screen; komunitas yang concern terhadap video dari Bandung. Awalnya festival ini bernama Village Film Festival. Pada tahun pertama Sunday Screen melakukan residensi selama 2 minggu di lima dusun di Desa Jatisura, yakni: Dusun Pon, Dusun Pahing, Dusun Manis, Dusun Kliwon, dan Dusun Wates, bekerja bersama warga membuat sebuah film partisipatif (participatory video). Kemudian Pada tahun 2010 Village Film Festival melibatkan 4 participant dari 4 Negara, mereka kemudian disebar ke 4 Desa dan tinggal dirumah penduduk selama 2 minggu untuk kemudian berinteraksi dan berkolaborasi dengan warga desa, memetakan masalah dan mengeksekusinya dengan membuat sebuah film.<br /> Tahun ini Village Film Festival coba bertransformasi menjadi Village Video Festival, karena video dirasa lebih representatif dan leluasa dalam menjelaskan sesuatu ketimbang film, cakupannya bisa video iklan layanan masyarakat, video profile desa, film, animasi, dokumenter, video art, dll.

Masalah yang ingin diatasi:
Pemilihan tema “TV PROGRAM” berangkat dari kesadaran akan intensitas informasi dari televisi yang menjadi satu-satunya hiburan alternatif bagi warga desa. Televisi seakan menjadi satu-satunya jendela bagi warga untuk melihat ke luar desa mereka (kota). Banyaknya televisi yang terus-terusan menyuguhkan tayangan-tayangan yang menyebabkan kepanikan masal, sehingga pemirsa tidak diberi kesempatan untuk berpikir jernih dan konsentrasi dalam kehidupan kesehariannya, disadari atau tidak, membuati masyarakat menjadi konsumtif. Sebagai agen yang membangun kesadaran media, festival ini juga dirancang untuk sarana berlatih warga desa menghadapi kepanikan-kepanikan yang dikondisikan televisi secara semena-mena dalam informasi, tayangan dan iklan-iklan. Bukan untuk melawannya, tapi untuk kemudian bisa memilih dan mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan warga desa tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Festival ini diharapkan dapat menjadi medium untuk sedikit menurunkan intensitas informasi dari televisi dengan mengajak warga untuk membuat program televisi sendiri. Dengan berbagai pendekatan kesenian kontemporer, atau bidang profesi lain. Diharapkan festival ini dapat menjadi medium untuk membangun diplomasi publik, meningkatkan kesepahaman budaya antar negara. Media promosi potensi daerah. Mendorong penyadaran dan pendidikan warga desa sebagai character building, pertukaran budaya lewat bingkai audio visual, media apresiasi lintas masyarakat melalui ide kreatif berbasis kolaborasi, mendorong kretifitas individu dan masyarakat secara mandiri dengan adanya festival, menjadi jendela untuk melihat situasi kehidupan warga desa, medium pendokumentasian kehidupan warga desa, dan merekam perubahan yang terjadi dalam kehidupan warga desa

Ukuran kesuksesan:
Melihat dari banyaknya partisipasi warga desa dalam festival ini, baik dalam pembuatan karya, ide ataupun keterlibatan dalam menjalankan festival ini. Karena festival ini merupakan medium untuk merekam perubahan yang terjadi dalam kehidupan warga desa.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas