Media Mangrove Mengare

489

489 - Media Mangrove Mengare


Nomor:
489

Inisiator:
Komunitas Volunteer Alam Lestari

Organisasi:
Komunitas Volunteer Alam Lestari

Tanggal aplikasi:
16 September 2011

Lokasi:
Malang, Jawa Timur

Dana:
813 Juta Rupiah

Topik hibah:
Meretas batas – kebhinekaan bermedia

Masa Aktivitas:
Januari 2012 sampai Desember 2013 (2 tahun)

Deskripsi Proyek:
Media Mangrove Mengare adalah program edukasi kepada masyarakat untuk pelestarian daratan kawasan pesisir Pulau Mengare, Gresik, Jawa Timur, dengan menggunakan berbagai media (cetak, elektronik, online). Masyarakat Pulau Mengare mayoritas adalah nelayan dan petani tambak. Setap tahun wilayah pesisir pulau Mengare menyusut terkena abrasi dari ombak laut dan kapal-kapal besar yang lewat, akibat berkurangnya hutan mangrove yang banyak dirusak oleh masyarakat sendiri maupun orang-orang dari luar daerah tersebut.

Masalah yang ingin diatasi:
1. Wilayah pesisir Pulau Mengare (kebanyakan berupa tambak bandeng) tiap tahun menyusut ratusan bahkan ribuan hektar akibat abrasi oleh ombak laut dan kapal-kapal besar yang lewat di selat Madura.<br /> 2. Mangrove sebagai tanaman penahan abrasi banyak ditebang oleh masyarakat lokal dan luar daerah, untuk diambil kayunya sebagai kayu bakar atau bahan bangunan.<br /> 3. Dengan banyak ditebangnya mangrove, maka nelayan pun semakin sulit dalam mencari ikan di pesisir, karena mangrove merupakan tempat pemijahan dan tempat berkembangbiaknya ikan, udang dan kepiting.<br /> 4. Burung-burung air (sebagian merupakan burung migran) banyak diburu oleh masyarakat untuk dikonsumsi.<br /> 5. Pulau Mengare mempunyai keunikan dan potensi yang luar biasa, karena memiliki alam yang indah dengan kekayaan flora fauna (khususnya burung dan satwa air), kehidupan masyarakat yang khas (masyarakat nelayan dan petani tambak), memiliki banyak makanan lokal berbasis ikan yang unik dan lezat, memiliki banyak potensi wisata sejarah (terdapat benteng Belanda, gua Jepang, tugu Portugis, dll), sangat berpotensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata, namun belum ada pihak yang mensupport, sehingga potensi ini belum tersosialisasikan dengan baik kepada dunia luar, dan belum tertata.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Untuk menyadarkan masyarakat pentingnya mangrove dan kelestarian lingkungan hidup diperlukan edukasi terus-menerus melalui berbagai media, untuk itu diusulkan beberapa program:<br /> 1. pembuatan radio komunitas, sebagai radio hiburan dan informasi bagi masyarakat, dengan selalu diselipkan edukasi dan kampanye pelestarian mangrove serta lingkungan hidup.<br /> 2. pembagian radio meja untuk warung-warung kopi (masyarakat Mengare sangat hobi nongkrong di warung kopi), serta pembagian radio saku kepada masyarakat. Radio-radio ini disetting tune in pada frekuensi radio komunitas.<br /> 3. penerbitan buletin bulanan, isinya membahas seputar masyarakat Mengare (potensi, info, kehidupan masyarakat, dll, dengan selalu diselipkan misi pelestarian mangrove dan lingkungan hidup)<br /> 4. pengadaan mesin cetak sederhana (untuk cetak buletin dan usaha percetakan sederhana yang nantinya dikelola masyarakat)<br /> 5. pembuatan film dokumenter ketiga, misi film ini mengangkat potensi dan permasalahan Pulau Mengare. Film sebagai media penyuluhan masyarakat (berupa kegiatan layar tancap), dan media sosialisasi pada dunia luar (diupload di Youtube, dibagikan ke lembaga-lembaga yang potensial mensupport program, dll).<br /> 6. pengembangan website sebagai media sosialisasi.<br /> 7. pembuatan forum group discussion, penyuluhan, layar tancap edukasi, secara berkala.<br /> 8. pelatihan pengelolaan media (radio, buletin, website) untuk kader masyarakat lokal<br /> 9. pembuatan perpustakaan desa (terutama buku-buku lingkungan hidup).<br /> <br /> Pihak yang akan menerima manfaat dari proyek ini adalah<br /> 1. Kelompok anak muda Karang Taruna (yang nantinya mengelola media)<br /> 2. Masyarakat petani tambak dan nelayan. Dari kurang lebih 10.000 penduduk pulau Mengare, sekitar 80% penduduk pria dewasanya beraktivitas di dunia nelayan dan tambak<br /> 3. Ibu rumah tangga (sebagian besar kaum ibu di Mengare beraktivitas di rumah, sasaran yang tepat sebagai pendengar setia Radio Komunitas)<br /> 4. Masyarakat Pulau Mengare pada umumnya

Ukuran kesuksesan:
1. Radio komunitas dapat berdiri, dan masyarakat aktif support serta beratensi di acara-acara radio (berkirim salam via sms, berbagi informasi, terlibat berpendapat dalam diskusi interaktif, dll)<br /> 2. Pada bulan ke-6, kader masyarakat lokal sudah bisa mandiri dalam memanajerial dan melakukan siaran radio komunitas<br /> 3. Buletin terbit rutin bulanan, masyarakat antusias<br /> 4. Pada penerbitan buletin ke-6, kader masyarakat lokal sudah bisa mandiri dalam memproses buletin (wawancara, membuat tulisan, melay-out, mencetak, mendistribusikan, dll.)<br /> 5. Pada bulan ke-6 mesin cetak sudah mampu produktif menghasilkan uang tambahan penunjang operasional program, dari hasil melayani secara profit kebutuhan cetak masyarakat Mengare<br /> 6. Film dokumenter terwujud dalam waktu 4 bulan.<br /> 7. Website rutin diupdate dengan info-info baru (paling tidak 1-2 minggu sekali), dan mendapatkan banyak pengunjung<br /> 8. Forum group discussion, penyuluhan dan layar tancap, terlaksana secara berkala sebulan 2 kali dan diikuti secara antusias oleh masyarakat.<br /> 9. Perpustakaan desa berdiri dan mendapatkan banyak support dari berbagai pihak untuk pengadaan bukunya, dan diminati oleh masyarakat<br /> 10. Adanya partisipasi aktif masyarakat dalam melestarikan mangrove, bisa berupa support dana, tenaga, penyediaan lahan untuk penanaman ataupun pembibitan mangrove, dll

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas