Mendorong Komunitas Ibu-ibu PKK Memanfaatkan “Media Baru”

564

564 - Mendorong Komunitas Ibu-ibu PKK Memanfaatkan “Media Baru”


Nomor:
564

Inisiator:
Lembaga Studi Pers & Informasi (LeSPI)

Organisasi:
Lembaga Studi Pers & Informasi (LeSPI)

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Jawa Tengah

Dana:
300 Juta Rupiah

Topik hibah:
Keadilan dan kesetaraan akses terhadap media

Masa Aktivitas:
5 bulan (Januari – Mei 2011)

Deskripsi Proyek:
Proyek ini bermaksud mendorong dan memfasilitasi komunitas ibu-ibu PKK di wilayah Kota Semarang untuk mengenal dan memanfaatkan media baru (new media), yaitu media yang keberadaannya berdasarkan internet. Di dalam media baru tersebut, ada kategori media sosial, seperti blog, facebook, twitter, dsb., yang tidak jarang turut mengembangkan nilai-nilai solidaritas, kesukarelaan berbagi, dan kebersamaan (gotong royong).<br /> Melalui kegiatan itu, diharapkan para ibu memiliki pemahaman serta apresiasi yang memadai tentang media baru, serta punya keterampilan untuk memanfaatkan kehadirannya. Manifestasi dari pemanfaatan itu antara lain mereka mampu berinteraksi dalam media sosial seperti blog, face-book atau twitter.<br /> Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan itu, minimal, para ibu itu bisa berdialog dengan anak-anak mereka yang jauh lebih dulu dan lebih cepat beradaptasi dengan perkembangan media-media baru. Lebih jauh dari itu, mereka juga bisa memanfaatkan media baru itu untuk mengomunikasikan kepentingan kelompoknya pada khalayak yang lebih luas melalui media baru tersebut.

Masalah yang ingin diatasi:
Ada kenyataan terjadi kesenjangan dalam pemanfaatan media baru, antara orang tua (termasuk para ibu) dengan anak-anak mereka.<br /> Anak-anak dan remaja perkotaan umumnya fasih memanfaatkan media baru itu. Mereka rata-rata punya face-book, blog ,atau twitter. Sebagian tugas sekolah pun mereka selesaikan dengan bantuan internet.<br /> Di sisi lain, sebagian orang tua menganggap kehadiran media baru itu “ancaman” yang patut diwaspadai, karena ada dampak buruk yang dibawanya. Setidaknya, relasi orang tua – anak menjadi terganggu. Persepsi itu muncul antara lain karena ketidaktahuan para orang tua memahami dan memanfaatkan media baru tersebut.<br /> Arus pemanfaatan media baru berkembang pesat sejalan dengan tingginya penggunaan internet. Pengguna facebook di negeri ini 27.953.340 (Oktober 2010), kedua terbesar di dunia. Sementara twitter 6.240.000 pengguna (September 2010), ke-3 se Asia atau ke-6 se dunia. Sedangkan jumlah blogger mencapai lebih dari 2 juta. Membendung arus kuat ini jelaslah sia-sia. Maka dibutuhkan sikap, pengetahuan dan keterampilan baru untuk memahaminya.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Kesenjangan pengetahuan dan keterampilan antara orang tua (dalam hal ini para ibu) dan anak-anak mereka dalam memanfaatkan media baru secara umum dapat diatasi dengan memberikan pemahaman serta keterampilan memanfaatkan media baru bagi para ibu. Bebarapa kegiatan konkretnya adalah:<br /> <br /> Pertama, diskusi dan publikasi cyber culture untuk para tokoh-tokoh PKK di Kota Semarang<br /> Kedua, literasi media (pendidikan melek media) untuk topik media baru, di 10 komunitas ibu-ibu PKK di kota Semarang –baik di level RT, kelurahan maupun kecamatan.<br /> Ketiga, workshop “Memanfaatkan Media Baru”, memberikan keterampilan membuat email, blog, twitter, dan face-book. Peserta workshop ini adalah para wakil dari komunitas ibu-ibu PKK.<br /> Keempat, pendampingan pasca workshop, sampai peserta terampil untuk mengoperasikan dan berinteraksi dalam media baru.<br /> Pihak yang menerima manfaat dari proyek ini adalah ibu-ibu yang tergabung dalam 10 komunitas PKK di kota Semarang

Ukuran kesuksesan:
(1) Istilah “Media Baru” dan “Media Sosial” makin popular di masyarakat, karena publikasi kegiatan, mulai dari diskusi-diskusi tema-tema yang berkaitan dengan cyber culture, maupun aktivitas literasi media dan workshop tentang media baru. Ukuran: jumlah liputan “media baru” di media cetak ataupun elektronik.<br /> (2) Setidaknya 10 ibu-ibu peserta kegiatan punya face-book atau twitter, dari sebelumnya tidak ada.<br /> (3) Setidaknya 5 ibu-ibu punya blog pribadi, dari sebelumnya tida ada.<br /> (4) Setidaknya ada 5 blog komunitasi PKK, yang mengomunikasikan aktivitas komunitas tersebut ke khalayak. Pada kondisi ini, kehadiran media baru berhasil memperkaya aktivitas komunitas PKK, yang semua hanya berkumpul sekadar untuk arisan, menjadi lebih bervariasi.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas