Menuju Media yang Informatif dan Memberdayakan Pascabencana

586

586 - Menuju Media yang Informatif dan Memberdayakan Pascabencana


Nomor:
586

Inisiator:
Yayasan Pulih

Organisasi:
Yayasan Pulih

Tanggal aplikasi:
16 September 2011

Lokasi:
Jakarta

Dana:
883 Juta Rupiah

Topik hibah:
Pemantauan media

Masa Aktivitas:
Januari 2012 – Desember 2012 [dua belas bulan]

Deskripsi Proyek:
Proyek ini hadir untuk merespon keluhan dari berbagai pihak mengenai peliputan bencana yang tidak sensitif dan etis khususnya dalam menimbulkan masalah-masalah psikologis bagi korban, keluarga korban dan konsumen media secara luas. Proyek ini menyasar jurnalis muda dan perusahaan media sebagai kelompok-kelompok yang kami anggap bisa membuat perubahan. Pemilihan jurnalis muda didasarkan pada pengalaman kami mengelola program ini sejak 2003 dimana mereka lebih mudah untuk mengadopsi nilai-nilai baru dan juga potensi mereka menjadi pemimpin di masa depan. Di sisi lain membuat perubahan dalam pemberian informasi tidak bisa lepas dari peran perusahaan media itu sendiri. Selalu ada konflik antara kepentingan elit media dengan logika pasarnya yang kental, dengan masalah etis yang mengutamakan kepentingan masyarakat banyak. Dengan tidak memungkiri peran penting media dalam konteks dunia kita saat ini, proyek yang kami usulkan mencoba memberikan penguatan pada kelompok-kelompok yang disasar untuk dapat menyajikan informasi yang berimbang dan memberdayakan dalam konteks pemulihan dan pencegahan dampak psikologis akibat bencana. Sehingga setelah menjalankan program ini selama 8 tahun, kami mencoba mendekati perusahaan media dengan menawarkan cara alternatif yang dilakukan oleh rekan-rekan jurnalis dan perusahaan media dari negri Jepang. Proyek ini merupakan proyek yang kami usulkan sebagai proyek cost-sharing dengan proyek yang kami usulkan ke program yang sedang digagas the Japan Foundation.

Masalah yang ingin diatasi:
Dalam bekerja, perusahaan-perusahaan media selalu ingin memberikan informasi yang terbaik dan terdepan. Tsunami Aceh 2004 misalnya, saat itu berbagai media terutama media televisi menggambarkan kerusakan dan kepedihan yang luar biasa parah dan luas yang kemudian menggerakan simpati masyarakat luas. Media saat bencana juga menjembatani kendala putusnya hubungan karena matinya saluran komunikasi. Namun dalam upaya menjadi yang terdepan dan terbaik itu, kadang kala mengundang keluhan dari berbagai pihak terkait masalah etika dan sensitifitas pemberitaan khususnya terhadap penyintas (survivors) dan masyarakat. Penayangan terus menerus bisa menimbulkan trauma sekunder pada pemirsa, retraumatisasi (seperti mengalami kembali trauma) bagi para penyintas dan masalah-masalah psikologis lain seperti kepanikan, menimbulkan prasangka dan konflik dsb. Proyek ini bertujuan untuk mendorong perusahaan media dan jurnalis muda untuk melakukan proses peliputan yang sensitif terhadap dampak-dampak psikologis yang mungkin muncul, kedua mendorong perusahaan media dan jurnalis untuk memproduksi berita yang informatif dan memberdayakan korban dan keluarganya serta konsumen media secara luas

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Program Jurnalisme dan Trauma dari Yayasan Pulih menawarkan aksi melalui:<br /> 1. Pertukaran intelektual melalui kegiatan workshop antara praktisi media Indonesia dan Jepang untuk menghasilkan kerangka kerja peliputan bencana yang sensitif, informatif dan memberdayakan dan modul pelatihan peliputan bencana<br /> 2. Pelatihan bagi pekerja media yang berasal dari media-media nasional maupun daerah khususnya daerah yang rawan bencana<br /> 3. Pelatihan lanjutan bagi kelompok-kelompok belajar yang didirikan oleh alumni-alumni pelatihan<br /> 4. Seminar yang mengundang jurnalis dan perusahaan media dengan pembicara individu-individu kompeten dalam jurnalisme dan trauma dari Indonesia dan Jepang.<br /> (kegiatan ini rencananya sifatnya cost-share dengan program yang Yayasan Pulih ajukan ke The Japan Foundation).<br /> Pihak yang menerima manfaat dari proyek ini adalah korban dan keluarga korban bencana baik alam maupun bencana social di Indonesia, konsumen media televisi dan cetak nasional dan lokal khususnya daerah rawan bencana, dan jurnalis muda.

Ukuran kesuksesan:
Tersedianya kerangka kerja dalam peliputan bencana dan rekomendasi bagi kisi-kisi modul pelatihan untuk jurnalis melalui workshop yang melibatkan praktisi media, kelompok masyarakat sipil dan akademisi. Tersedianya 1 modul pelatihan untuk jurnalis dalam peliputan bencana. Terdapat satu kali pelatihan 4 hari yang melibatkan 25 orang jurnalis muda dari 10 daerah rawan bencana. Setidaknya minimal ada 4 kelompok belajar yang terdiri dari jurnalis-jurnalis muda (masing-masing kelompok 15 orang jurnalis muda) dari daerah-daerah yang paling marginal yang diorganisir oleh alumni jurnalis yang ikut pada pelatihan. 4 kelompok belajar ini menerima pelatihan 2 hari dari Pulih. Dilaksanakan satu kali kegiatan seminar satu hari yang mengundang narasumber untuk memberikan alternatif peliputan bencana yang dihadiri oleh 200 orang terdiri dari praktisi media, pemerintah, organisasi masyarakat sipil dan akademisi.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas