Memecah Kebekuan

636

636 - Memecah Kebekuan


Nomor:
636

Inisiator:
ILALANG (Institut Toleransi Keberagaman dan Pelestarian Lingkungan)

Organisasi:
ILALANG (Institut Toleransi Keberagaman dan Pelestarian Lingkungan)

Tanggal aplikasi:
16 September 2011

Lokasi:
Jayapura, Papua

Dana:
200 Juta Rupiah

Topik hibah:
NA

Masa Aktivitas:
Oktober 2011 – Maret 2012 (5 Bulan).

Deskripsi Proyek:
Provinsi Papua, hingga kini masih terus menyimpan bara kekerasan. Sumber konflik yang beragam serta banyaknya kepentingan yang bermain di Papua telah menjadikan daerah ini senantiasa berada dalam situasi. Di bidang sosial, keberadaan berbagai suku dan etnis dari seluruh Indonesia di Papua, telah menghadirkan ketegangan-ketegangan sosial lain. Membaca catatan kekerasan dan keamanan di Jayapura, ibukota provinsi Papua pada sekitar 4 tahun terakhir, kita akan disuguhkan pada fakta yang cukup mengusik logika kita. Ada catatan pola konflik yang ‘tersusun rapi’. Misalnya pada Agustus 2008 hingga November 2010, kekerasan telah menghadirkan aktor-aktor kekerasan pada kelompok etnis tertentu di Papua dan etnis Papua lainnya pada sisi korban. Lihat kasus penyerangan kampung Nafri (Agustus 2008), penyerangan kampung Yahim (Agustus 2009), dan penyerangan kampung Yoka (November 2010). Dan sejak akhir 2010 hingga pertengahan 2011, pola konflik tersebut berubah. Hingga paruh pertama 2011, korban kekerasan telah menghadirkan kelompok baru, yakni ‘masyarakat migran’. Yang menjadi tanda tanya, pelaku dari kekerasan rentetan kekerasan sejak 2008 hingga 2011 di atas menunjuk pada satu kelompok tertentu di Papua.<br /> Di sisi lain, kebekuan komunikasi antara etnis di Papua telah menghadirkan masalah tersendiri di Jayapura. karena itu, memecahkan kebekuan komunikasi dan membuka ruang interaksi antara etnis adalah sebuah keharusan.

Masalah yang ingin diatasi:
Bahwa kebekuan komunikasi, terutama antara etnis yang selalu dianggap sebagai pelaku kekerasan dengan etnis lain (baik etnis Papua maupun etnis non-Papua) yang menjadi korban sudah tentu akan menghadirkan ketertutupan serta melahirkan kecurigaan antara satu etnis dan etnis lain di Jayapura.<br /> Ketertutupan komunikasi antar-etnis di Jayapura ini mesti diakhiri, karena kita semua tidak ingin terus hidup dalam satu ketegangan ke ketegangan yang lain.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Wonorejo, sebuah kampung di kabupaten Keerom, hidup sebuah kelompok masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang suku dan agama. Menarik memperhatikan interaksi sosial mereka yang hidup dalam kedamaian, saling membantu tanpa memperdebatkan etnis dan agama. Kehidupan ini akan ‘dipotret’ dalam bentuk melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) bulanan di kampung Wonorejo kabupaten Keerom, untuk memahami metode mereka dalam membangun komunikasi yang menyejukan ini. Hasil FGD bulanan tersebut akan menjadi bahan kampanye dalam bentuk leaflet dan t-shirt serta akan disebar di berbagai asrama mahasiswa berbasis kedaerahan di kota Jayapura.

Ukuran kesuksesan:
Adanya ruang komunikasi antara etnis di kota Jayapura.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas