Etika dan Kebebasan Pers dalam Jurnalisme Bencana

651

651 - Etika dan Kebebasan Pers dalam Jurnalisme Bencana


Nomor:
651

Inisiator:
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang

Organisasi:
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Padang, Sumatera Barat

Dana:
350 Juta Rupiah

Topik hibah:
Kebebasan dan etika bermedia

Masa Aktivitas:
Januari – Desember 2012

Deskripsi Proyek:
Proyek ini ditujukan untuk mengembangkan jurnalisme bencana yang berpegang teguh pada nilai-nilai etika jurnalistik serta memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi dan pendidikan kebencanaan. Usai gempa besar di Sumbar pada 30 September 2009, AJI Padang melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan jurnalisme bencana dengan peningkatan kapasitas jurnalis dan menerbitkan media alternatif kebencanaan ‘Sandereh’. Peningkatan kapasitas jurnalis dilakukan dengan jalan pelatihan dan diskusi terhadap anggota AJI Padang maupun jurnalis di luar AJI. Selain itu, untuk menyikapi keterbatasan media mainstream terhadap liputan kebencanaan, AJI Padang didukung sejumlah lembaga menerbitkan Buletin Sandereh yang dibagikan gratis kepada masyarakat di berbagai kabupaten/kota yang rawan bencana di Sumbar. Dalam proyek ini, peningkatan kapasitas jurnalis tersebut akan lebih dikembangkan melalui pelatihan dan workshop yang sesuai dengan etika jurnalistik dan prinsip-prinsip jurnalisme bencana. Hal ini diharapkan bisa mengembangkan jurnalisme bencana kepada media massa tempat jurnalis bekerja. Sementara, Sandereh sudah mulai dikembangkan menjadi menjadi media online dengan alamat www.sandereh.com. Kehadiran media ini diproyeksikan menjadi sebuah media online interaktif dengan jangkauan pembaca yang lebih luas dan bisa menjaring aspirasi masyarakat yang lebih luas pula. Jurnalisme bencana yang dikembangkan Sandereh.com adalah jurnalisme beretika, berempati, mendidik, bukan jurnalisme yang meresahkan.

Masalah yang ingin diatasi:
Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki potensi bencana yang tinggi. Meski demikian, masyarakat belum memiliki pengetahuan dan kesiagaan yang cukup untuk menghadapi kerentanan tersebut. Sehingga, ketika bencana terjadi, banyak masyarakat yang menjadi korbannya. Dalam kondisi itu, media massa dan jurnalis belum punya perhatian yang cukup pada persoalan bencana. Pemberitaan tentang kebencanaan yang muncul lebih sering berkutat hanya beberapa saat setelah bencana terjadi, terutama memberitakan jumlah korban dan dampak bencana. Padahal, pemberitaan tentang pendidikan kebencanaan dan pengurangan risiko bencana diperlukan terus-menerus untuk mengurangi dampak bencana seperti korban jiwa dan potensi kerugian lainnya. Pemberitaan tentang bencana juga diperlukan dalam waktu yang cukup lama setelah bencana, untuk mengawasi proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Melakukan pelatihan dan workshop jurnalisme bencana kepada jurnalis, merangsang lahirnya karya jurnalistik yang baik tentang kebencanaan melalui lomba dan event, dan mengembangkan pusat informasi kebencanaan melalui website: www.sandereh.com<br /> <br /> Masyarakat mendapatkan informasi kebencanaan yang berkualitas dan mempunyai ruang yang lebih untuk berpartisipasi dalam pemberitaan kebencanaan, sebanyak 50 jurnalis dari berbagai media mendapatkan pelatihan dan peningkatan kapasitas dalam peliputan isu-isu bencana, dan stake holder lainnya, seperti pemerintah dan lembaga kemanusiaan di bidang kebencanaan.

Ukuran kesuksesan:
Berkembangnya www.sandereh.com menjadi media interaktif kebencanaan yang fokus dan konsisten mengembangkan jurnalisme bencana, terlaksananya pelatihan dan workshop jurnalisme bencana yang dihadiri 50 jurnalis, dan meningkatnya kapasitas dan kepedulian jurnalis dan media mainstream terhadap isu-isu kebencanaan melalui karya jurnalistik.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas