Deradikalisasi di Kalangan Remaja melalui Media Film; Upaya penanaman nilai-nilai pluralisme berbasis pada media popular (film pendek semi dokumenter)

739


Nomor:
739

Inisiator:
Saifudin Zuhri

Organisasi:
PR2Media

Tanggal aplikasi:
16 Sep 2011

Lokasi:
Yogyakarta

Dana:
300 Juta Rupiah

Topik hibah:
Meretas batas – kebhinekaan bermedia

Masa Aktivitas:
6 bulan

Deskripsi Proyek:
Persoalan radikalisme sudah menjadi isu global dan menjadi ancaman bersama. Sejak tragedi 11 September 2010 bangsa-bangsa dari berbagai belahan dunia secara serentak mengagendakan terorisme sebagai musuh bersama yang harus dilawan dan dibasmi. Begitu pula Indonesia. Indonesia sebagai bangsa dengan sejarah yang khas mengenai hubungan antara agama dan negara serta tingkat keragaman agama yang dipeluk warga bangsa menjadikan isu-isu mengenai kehidupan beragama menjadi titik singgung paling krusial. Terlebih lagi dengan munculnya berbagai tragedi kemanusiaan yang disinyalir berbau SARA (khususnya agama). Berulangnya konflik Ambon, konflik Poso, serangan bom di Bali, Hotel Marriot Jakarta, gereja-gereja di Jakarta, Kedutaan Australia, serangan terhadap pengikut Jama’ah Ahmadiyah, dan seterusnya adalah daftar panjang lembaran buruk kehidupan antar umat beragama di Indoneisa. Penyebab tragedy kemanusiaan tersebut memang amatlah kompleks dan rumit, namun bisa dipastikan bahwa keterlibatan komunitas dan manipulasi simbul agama menjadikan agama sebagai titik rawan yang selayaknya mendapat perhatian lebih dari berbagai pihak.<br /> Berbagai upaya memang telah dilakukan untuk membina dan merangkai kerukunan antar umat beragama, terutama oleh pemerintah dan para elit agama itu sendiri. Namun demikian untuk segmen anak muda (remaja sekolah) dan strategi resolusi konflik agama kurang berkembang dan kurang inovatif jika dibandingkan dengan obsesi untuk penciptaan perdamaian itu sendiri. Disinilah kemudian terkadang upaya-upaya deradikalisasi kurang menyentuh di kalangan anak muda. Padahal banyak pelaku terror dengan perspektif pemahaman agama radikal berasal dari kalangan usia remaja (20-30-an tahun). Psikologis remaja yang di satu sisi berada pada masa pencarian identitas di tengah arus deras modernitas dan tawaran radikalisasi dari jaringan internasional menjadikan kaum remaja sebagai sasaran empuk dan potensial cuci otak ajaran radikalisme agama dan terror.<br /> Dengan demikian perlu diupayakan deradikalisasi di kalangan remaja dengan memalui media popular yang langsung menyentuh ke dalam style dan genre anak muda, yakni film. Film pendek semi documenter akan menampilkan potret kehidupan beragama yang didasari pada nilai-nilai pluralism dalam bingkai ke-Indonesiaan. Produk film tersebut kemudian akan dijadikan media penyadaran dan penanaman nilai-nilai kerukunan antar umat beragama di lembaga-lembaga strategis bagi anak muda, seperti sekolah-sekolah dan organisasi kepemudaan.

Masalah yang ingin diatasi:
Proyek ini ingin mengatasi maraknya radikalisasi agama di kalangan remaja. Banyak fakta menunjukkan bahwa pelaku teror adalah anak usia muda namun di sisi lain upaya deradikalisasi yang sudah dilakukan oleh berbagai pihak cenderung elitis dan strategi yang digunakan tidak menyentuh dalam genre anak muda sehingga kelompok ini justru tidak tersentuh. Dalam pada itu upaya penanaman deradikalisasi lebih bersifat deduktif dan arus komunikasi bersifat top down; yakni dari dogma yang ditafsirkan oleh para elit (pemuka agama maupun pemerintah) ke umat. Begitu juga media yang digunakan pun kurang kreatif, sejauh ini media yang paling dipakai dalam penyampaian pesan perdamaian didominasi oleh ceramah, khutbah, selebaran, dll. Dengan sebuah produk film pendek semi documenter diharapkan para remaja melihat langsung tingkah kehidupan secara nyata yang lebih menyentuh tanpa menggurui.

Cara mengatasi dan masyarakat yang diuntungkan:
Menciptakan strategi kreatif dengan membuat produk film pendek semi documenter yang menggambarkan tentang dinamika kehidupan beragama yang beragam dalam sebuah lingkungan atau keluarga. Film terbut kemudian diputar dan dijadikan bahan diskusi di kalangan remaja di sekolah-sekolah atau di organisasi-organisasi kepemudaan.<br /> Pihak yang diuntungkan adalah Remaja usia 15 – 18 tahun (SMP & SMA) di Yogyakarta, Remaja usia 18 – 25 tahun (mahasiswa perguruan tinggi dan pemuda) di Yogyakarta, dan organisasi kepemudaan, baik formal maupun kelompok-kelompok pop di Yogyakarta.

Ukuran kesuksesan:
Munculnya kesadaran di kalangan remaja untuk siap menerima perbedaan agama atau paham keagamaan. Dengan demikian diharapkan muncul sikap saling menghormati dan menghargai dalam kehidupan nyata. Selain itu munculnya daya tahan remaja untuk bersikap kritis terhadap upaya perayuan dari pihak-pihak yang ingin memprovokasi dengan mengambil isu-isu sensitive keagamaan.

Perkembangan Proyek



Tidak ada aktifitas