Kabar Terbaru

Penerima Hibah

CHONIE PRYSILIA


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

audiovisual

Pengalaman Berkarya

4 tahun

Contoh Karya

Situs Web

https://youtu.be/8aFnZJYA1p8

Media Sosial

https://www.instagram.com/jendelachonie/

Catatan Juri


Dana yang diturunkan: Rp.250 Juta

Film animasi dapat menjembatani dialog yang sulit tercipta dalam ruang riil, dalam hal ini pada kasus intervensi masyarakat atas tubuh dan hak reproduksi perempuan. Chonie Prysilia memulai karir penyutradaraannya dengan menyediakan corong bagi suara-suara perempuan yang mau berbagi pendapat tentang haknya menentukan pilihan. Cerita-cerita mereka diharapkan dapat menyadarkan masyarakat untuk berhenti menghakimi lalu mendukung perempuan memegang kendali atas hidupnya dan bahwa melahirkan anak bukanlah satu-satunya fungsi tubuh perempuan di dunia ini.

Proyek


No. Formulir

62

Judul Proyek

KOSONG

Lokasi Proyek

DI Yogyakarta

Deskripsi Proyek

'KOSONG' adalah sebuah proyek dan judul film animasi dokumenter panjang karya Chonie Prysilia dan Hizkia Subiyantoro, yang mengangkat isu pernikahan tanpa keturunan, dengan perempuan yang terlibat di dalamnya, sebagai subyek dan sudut pandang utama. 'KOSONG' akan menyampaikan kesaksian dan pemikiran 5 (lima) orang subyek perempuan yang dalam pernikahannya tidak/belum memiliki keturunan. Kelima subyek masing-masing berasal dari berbagai profil dan latarbelakang pernikahan. 'KOSONG' mengantarkan kisah subyek-subyeknya dalam bentuk rekaman suara wawancara narasumber, dengan adegan-adegan animasi dan karya-karya grafis pada visualnya. Bentuk ini dirancang untuk mengeksplorasi pencapaian artistik sutradara, mem-visualisasikan ingatan-ingatan luput dokumentasi sekaligus, sebagai alat perlindungan atas identitas subyek. Selain lima subyek utama, 'KOSONG' juga akan menghadirkan isu terkait dari berbagai sudut pandang lainnya seperti sudut pandang orang-orang di sekeliling subyek, sudut pandang masyarakat, sudut pandang ahli-ahli terkait, dan tentu saja, sudut pandang pria. ( Concept trailer film 'KOSONG' dapat ditonton di : https://youtu.be/cvq-asTAiTA )

Kategori

akses

Latar Belakang Proyek

Pada suatu hari, salah satu teman baik Ibu saya meninggal. Ia meninggal tanpa keturunan meski pernikahannya sudah lebih dari dua puluh tahun. Ia berprestasi dalam berbagai organisasi dan terkenal baik hati karena barisan kegiatan kemanusiaannya. Di hari pemakamannya, ratusan pelayat datang. Alih-alih mengenang prestasinya atau kebaikan hatinya, mereka sibuk berkomentar; 'Kasihan ya sampai meninggal tidak punya anak." Beberapa tahun kemudian saya menghadiri pemakaman lainnya, kali ini pemakaman teman yang sudah saya anggap kakak. Ia meninggal seminggu setelah melahirkan bayinya, akibat kanker ganas yang baru terdeteksi setelah prosedur operasi caesar. Umur pernikahannya belum sampai dua tahun, namun masih jelas dalam ingatan, keluh kesah resahnya mencoba pengobatan ini itu, berjuang agar segera hamil, sebab keluarga dan tetangganya mulai mempertanyakan kesempurnaannya sebagai perempuan. Di belahan lain pulau Jawa, saya dan suami mengidolakan seorang Dalang, atas dedikasinya mempertahankan wayang klasik gaya Jogja. Saat membahas tentang beliau, beberapa orang mengindentifikasi beliau dengan kalimat; "Ooo, dalang sing ora nduwe anak kae." (Oh, dalang yang tidak punya anak itu). Kehamilan yang terjadi segera setelah pernikahan, semua pasutri menginginkan hal yang sama, adalah stereotip yang berkembang dalam masyarakat nusantara. Penundaan atau perencanaan waktu kehamilan pertama tidak populer. Setelah pernikahan, jika kehamilan tak kunjung terjadi, kehidupan pernikahan dipertanyakan.

Masalah yang Diangkat

Urusan kehamilan pertama kemudian menjadi urusan publik dan intens dibahas secara terbuka, tanpa mengindahkan privasi. Pertanyaan datang dari kalangan internal keluarga, eksternal, dan tak jarang, dari pasangannya sendiri. Dalam masyarakat tradisional, pembahasan lama-kelamaan berubah menjadi intimidasi berupa sindiran, hingga pelecehan verbal. Dosisnya bertambah seiring waktu. Meski biasanya dibungkus 'kepedulian', berkedok agama dan nilai-nilai keluarga, tanpa sadar, masyarakat berandil besar dalam mengintimidasi pernikahan tanpa keturunan. Oleh sebab itu atau bukan, banyak pasangan mencoba berbagai cara; dari yang bersifat medis, spiritual, hingga alternatif, untuk segera memiliki keturunan. Sebagaimana khasnya masyarakat patrilineal, cukup mudah menebak obyek utamanya ; istri, perempuan. Perempuan yang menua tanpa keturunan dianggap malang, cacat dan tak jarang, diceraikan. Setiap kita mengetahui setidaknya satu pernikahan tanpa keturunan. Jadi dapat dipastikan, dalam satu komunitas, setidaknya satu perempuan sedang menghadapi intimidasi dan pelecehan verbal, yang karenanya mengalami gangguan kecemasan (anxiety), lalu menyerahkan tubuhnya pada resiko sejumlah eksperimen medis dan non-medis. Meski topik ini berhubungan langsung dengan tubuhnya, kehendak pribadinya tidak pernah penting, apalagi tersampaikan.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

-Film ini ditonton sebanyak mungkin masyarakat nusantara dan dunia. -Film ini mampu merubah paradigma dan sikap masyarakat terhadap pernikahan tanpa keturunan. -Film ini mampu menumbuhkan rasa hormat akan hak-hak perempuan atas tubuhnya.

Dana Hibah

Rp.460 Juta

Selamat Kepada Penerima Hibah