Pemohon Hibah

SRI WAHYUNI


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

seni_pertunjukan

Pengalaman Berkarya

7 tahun

Contoh Karya

Situs Web

Media Sosial

Masih bercampur di FB: Sri Wahyuni (Bune)

Proyek


No. Formulir

1022

Judul Proyek

PEREMPUAN BUMI

Lokasi Proyek

Papua, NTT, Aceh dan Jakarta

Deskripsi Proyek

Konsep proyek ini adalah kolaborasi kami bertiga dengan perempuan di NTT, Papua dan Aceh. Kami ingin mengangkat tradisi lokal dalam kehidupan perempuan dari berbagai latar belakang di NTT, Papua, dan Aceh yang akan diceritakan melalui seni kolaborasi. Kekuatan yang diangkat dari konsep ini adalah cerita para perempuan yang dituturkan melalui ekspresi berkesenian. Para perempuan akan menjadi subjek penutur cerita (story teller) tentang perjalanan kehidupan sehari-hari dalam merawat dan menjaga bumi, ataupun bagaimana mereka memandang dan menghargai alam. Medium seni yang dipilih untuk bercerita adalah kolaborasi seni melukis dan musik tradisional karena menurut kami kedua seni tersebut dapat saling memberi energi. Proyek seni ini akan dilaksanakan dalam tahapan aktivitas sebagai berikut: Tahapan persiapan yaitu: 1) Riset yang bertujuan untuk mengidentifikasi figur-figur perempuan yang sesuai dengan tema proyek ini. 2) Lokakarya yang bertujuan untuk mensosialisasikan konsep proyek, mendapatkan keaslian cerita dari para perempuan, memilih talenta dan cerita terbaik, melatih para perempuan untuk berekspresi seni. 3) Pameran hasil lokakarya di tingkat wilayah. Tahapan puncak, yaitu diselenggarakan pertunjukan kolaborasi melukis oleh para perempuan yang terpilih dan permainan musik tradisional yang akan dimainkan oleh solis atau duo musisi tradisional dari ke 3 wilayah tersebut. Penyelenggaraan dilaksanakan di Jakarta bertepatan dengan peringatan Hari Ibu.

Kategori

kerjasama_kolaborasi

Latar Belakang Proyek

Berkesenian dan seniman sering diartikan suatu kegiatan yang “hanya" dilakukan oleh mereka yang mempunyai latar belakang formal sekolah seni. Padahal bersekolah membutuhkan persyaratan dan biaya yang tidak semua orang bisa mengakses. Menurut kami, berkesenian dan “menjadi” seniman bisa dilakukan oleh siapa saja yang menyimpan “talenta”. Setiap manusia punya hak untuk mengekpresikan rasa seninya. Demikian pun perempuan. Namun, para perempuan yang dianggap sebagai makluk “multitasking” faktanya sering dibatasi oleh ruang, waktu, bahkan budaya. Kami bertiga, kerap berjumpa perempuan yang menyimpan talenta berkesenian lebih menghabiskan hidupnya untuk urusan keluarganya. Di antara mereka, meskipun bekerja di luar rumah, bahkan pekerjaannya bersentuhan dengan dan ujud dari “seni” yang tidak memiliki kesempatan mengekspresikannya melalui aktivitas berkesenian. Kami percaya banyak orang yang dalam kehidupannya berkecimpung dengan seni namun tidak pernah disebut seniman. Merekalah sejatinya “seniman” kehidupan. Papua, NTT dan Aceh adalah wilayah yang kami yakini menyimpan banyak cerita menarik tentang perempuan dengan segala keaslian budaya dan keragaman kehidupannya, keindahan dan kekayaan alamnya yang pantas untuk diceritakan melalui medium seni. Di antara mereka mungkin adalah para perempuan yang sehari-harinya berkutat dengan urusan rumah tangga dan kesejahteraan keluarganya namun memiliki talenta berkesenian yang selama ini hanya digunakan untuk mendukung peran dalam rumah tangga atau mencari nafkah saja.

Masalah yang Diangkat

Meskipun data statistik Gender Development Index (GDI) untuk Indonesia menunjukkan perkembangan kesetaraan gender yang “lumayan” namun tidak bisa dipungkiri bahwa di beberapa wilayah di Indonesia secara budaya perempuan masih dianggap “warga kelas dua penghuni bumi ini”. Kami ingin mengangkat kiprah perempuan dalam merawat bumi, memelihara dan menghargai alam yang sangat penting, karena sesungguhnya perempuanlah yang dalam kehidupan sehari-hari lebih banyak berhubungan dengan alam. Sebagai contoh, kegiatan perempuan sehari-hari dalam rumah tangga sangat erat kaitannya dengan air, hasil bumi hingga sampah. Hal ini antara lain diungkap dalam Konferensi Air dan Lingkungan Internasional pada tahun 1992 di Dublin, Irlandia yang menghasilkan The Dublin Principles yang salah satunya menekankan peran kunci perempuan dalam keberlangsungan air. Dengan demikian, dalam proyek ini, para perempuan akan diangkat menjadi tokoh sentral yang bercerita tentang eksistensinya dan kedekatan mereka dengan alam, bagaimana mereka memandang dan menghargai alam melalui medium seni lukis yang dikolaborasikan dengan musik tradisional.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

Terlaksananya semua tahapan Kehadiran penonton dalam pameran di daerah dan acara puncak di Jakarta Liputan media Film dokumenter seluruh tahapan Dokumen foto seluruh tahapan. Penerbitan dokumentasi hasil proyek.

Dana Hibah

Rp.498 Juta