Pemohon Hibah

Proyek


No. Formulir

1111

Judul Proyek

Sutinah dalam Tempurung “Bundengan”

Lokasi Proyek

Jawa Tengah (Wonosobo)

Deskripsi Proyek

Proyek “Sutinah” ini merupakan upaya kami dalam menyuarakan kesetaraan bagi perempuan-perempuan yang selama ini terhalang kebebasannya dalam berkarya. Sebagai media pertunjukan kami, seni musik tradisional Bundengan sangatlah erat kaitannya dengan budaya penggembalaan ternak yang selama ini didominasi oleh kaum lelaki. Sejak lima tahun terakhir, kami telah bergelut di bidang promosi, riset, dan pengembangan terhadap kesenian tradisional Bundengan, serta telah melahirkan generasi perempuan yang tak kalah piawai dalam memainkan alat musik ikonik daerah Wonosobo ini. Bagi kami, “Sutinah” adalah simbol dari perempuan dalam pergulatannya melawan kodrat sosialnya, meskipun tatanan tersebut selalu saja mencoba untuk menutupi segala.

Kategori

akses

Latar Belakang Proyek

Cowok bandel adalah hal yang biasa saja. Tak akan ada orang yang mengindahkannya sebegitu penting, sebagaimana kewajaran-kewajaran lainnya. Bagaimana dengan cewek bandel? Di tengah masyarakat yang masih menempatkan perempuan semata-mata sebagai lambang akan keanggunan dan segala sesuatu yang ideal, ia akan menjadi buah bibir semua orang. Ia tak akan mudah dimaafkan sebagaimana halnya permakluman dialamatkan kepada laki-laki. Segala sisi kehidupannya akan terdampak oleh kenakalan yang ia lakukan seketika sanksi sosial dari masyarakat diberlakukan; tepat seperti peribahasa “karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Adalah Sutinah, nama perempuan yang ada di pusat segala perhatian kami. Dulu, ayahnya yang telah marhum adalah maestro bundengan yang melegenda di kota yang tak sebegitu besar ini. Kepiawaiannya memetik alat musik gembala tersebut mewaris pula kepada sang putri, bahkan melampaui pemain-pemain bundengan yang lain. Hanya saja, kini tak ada orang yang mau mendengarkan permainan Bundengan Sutinah. Apa pasal?

Masalah yang Diangkat

Permasalahan berkaitan dengan isu gender dalam masyarakat, dapat menghalangi perempuan untuk berekspresi. Ketika perempuan di lingkungan masyarakat diketahui melakukan kesalahan yang bersifat aib, maka akan berimbas pula pada segala lini kehidupan perempuan tersebut. Salah satu yang mengerikan adalah sangsi sosial yang tidak diberlakukan adil antara laki-laki dan perempuan. Kenakalan yang diperbuat oleh laki-laki selalu saja menjadi kewajaran dan akan segera dilupakan. Sebaliknya, kenakalan yang dilakukan oleh perempuan, meskipun hanya sekali, menjadi noda yang selamanya akan membekas. Benarkah jika permakluman hanya ditujukan untuk laki-laki?

Durasi Proyek

5 bulan

Indikator Sukses

Masyarakat mulai memperbincangkan isu tentang peranan perempuan dan kebebasannya dalam berekspresi (via penyelenggaraan diskusi di akhir penyelenggaraan proyek ini); munculnya generasi pemain bundengan dari kalangan perempuan; Hadirnya berbagai kalangan komunitas yang membantu berproses, publikasi dan edukasi (akan dilakukan kolaborasi lintas komunitas di Wonosobo); Peran media lokal yang juga menjadi partner tersampaikannya pesan.

Dana Hibah

Rp.150 Juta

Mulyani


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

seni_pertunjukan

Pengalaman Berkarya

aktif di dunia kesenian khususnya tari, sejak 1990 (28 tahun). Aktif mengenalkan bundengan sejak 2013 (5 tahun)

Situs Web

Media Sosial

instagram : https://www.instagram.com/ngestilaras8/ - facebook : https://www.facebook.com/mulyani.moelya