Pemohon Hibah

Proyek


No. Formulir

1127

Judul Proyek

Adak na Bulèe Ulon Teureubang (Seandainya Aku Bisa Terbang)

Lokasi Proyek

Aceh dan Yogyakarta

Deskripsi Proyek

Proyek yang berjudul “Seandainya Aku Bisa Terbang” ini merupakan program perjalanan ke Aceh –tepatnya di Aceh Jaya, Pidie, Bireun yang pernah menjadi ritus pelatihan Inong Balee. Judul proyek ini merupakan nukilan dari nyanyian sebelum tidur oleh ibu kepada anaknya. Berjudul ‘Do do daidi’. Konten dari syair lagu tersebut merepresentasikan “prajurit perempuan” yang seringkali paradoks. Berisi kerelaan untuk kehilangan dalam perjuangan, kerelaan mendidik buah hatinya, kedekatan dengan alam, serta kerelaan untuk berjuang meskipun aib dan keji yang dikatakan orang-orang. Proyek ini mengartikulasikan hasil perjalanan menjadi pertunjukan dan pameran catatan perjalanan di dua lokasi yaitu Aceh dan Yogyakarta. Untuk dapat diakses secara bebas oleh berbagai pihak serta untuk tujuan edukasi publik, hasil dari proyek ini akan dibuat buku dan dokumentasi dalam sebuah website. Dalam proses mengartikulasi hasil perjalanan akan mempertimbangkan estetika, etika, dan metodologi penyampaian.

Kategori

perjalanan

Latar Belakang Proyek

Perempuan mempunyai power dalam bernegosiasi sepanjang zaman. Sejarah gerakan perempuan mencatat begitu banyak tokoh-tokoh perempuan yang memperjuangkan haknya dan membangun identitasnya sebagai seseorang yang disebut manusia. Dari gerakan menuntut keadilan gender, keadilan pembagian upah dan kerja, dan keadilan tersedianya ruang pendidikan, pasar, serta politik untuk perempuan. Dari berbagai gerakan tersebut, Inong Balee tumbuh dari situasi untuk memperjuangkan keadilan bagi bangsanya. Bukan secara spesifik bagi perempuan saja, namun bagi seluruh ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Pemahaman yang jernih mengenai kisah-kisah Inong Balee hanya beberapa yang dapat diakses secara bebas. Pandangan negatif tak sedikit yang hadir. Dari berbagai pertimbangan tersebut, proyek ini tercetus.

Masalah yang Diangkat

Cerita yang terdokumentasi secara minim mengenai Inong Balee, menimbulkan asumsi yang beragam. Inong Balee yang awalnya dibentuk oleh Laksamana Malahayati sebagai “prajurit perempuan” yang berjuang ke medan perang melawan Portugis. Kemudian meluas menjadi “prajurit perempuan” yang berjuang untuk keadilan dalam Gerakan Aceh Merdeka. Lantas ritus-ritus perjuangan masih berdiri menjadi objek yang narasinya dilekatkan oleh berbagai kepentingan. Dalam proyek ini, tim akan menelusuri pengalaman Inong Balee berdasarkan cerapan terhadap lagu mengenai kerelaan untuk kehilangan dalam perjuangan, kerelaan mendidik buah hatinya, kedekatan dengan alam, serta kerelaan untuk berjuang meskipun aib dan keji yang dikatakan orang-orang.

Durasi Proyek

6 bulan

Indikator Sukses

1. Management perjalanan, pertunjukan dan exhibition yang baik dan tepat 2. Pertunjukan dan exhibition di Yogyakarta dan Banda Aceh 3. Publikasi karya lewat buku dan website yang diakses gratis 4. Dua bentuk karya direspon oleh berbagai pihak

Dana Hibah

Rp.292.4 Juta

Nesia Putri Amarasthi


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

seni_pertunjukan

Pengalaman Berkarya

8 tahun

Contoh Karya

Situs Web

https://www.youtube.com/watch?v=8Y_v8McS1QA&t=25s | https://www.kompasiana.com/rianadewie/menguntai-makna-cantik-dari-drama-yang-menggelitik-sulamin-bibir-saya-dong_591fc7fffd22bd436d5f7328 | http://gelaran.id/catatan-penonton-sulamin-bibir-saya-dong/ |

Media Sosial