Pemohon Hibah

Hindra Setya Rini


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

audiovisual

Pengalaman Berkarya

10 tahun menekuni seni pertunjukan teater, 5 tahun terakhir menekuni film dan fotografi.

Situs Web

hindrasetyarini.blogspot.co.id

Media Sosial

www.instagram.com/ibunya_hagia

Proyek


No. Formulir

1229

Judul Proyek

Dialog Rumah Tangga

Lokasi Proyek

DKI Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta

Deskripsi Proyek

Proyek ini adalah sebuah presentasi karya yang bercerita tentang keluarga, melibatkan perempuan-perempuan yang secara terbuka membicarakan hal pribadi dalam rumah tangganya. Permasalahan rumah tangga yang biasanya ditutup-tutupi agar tampak baik-baik saja dari luar rumah, akan dibagikan melalui presentasi karya “Dialog Rumah Tangga” ini. Proyek ini terbagi dua fase, yaitu fase pertama penyelesaian produksi karya film pendek fiksi berjudul “Rumah Bitha” yang merupakan alat bagi saya untuk memasuki rumah-rumah keluarga yang saya singgahi. Film fiksi ini sebagai sebuah media yang berbicara tentang keluarga di Indonesia. Fase kedua, presentasi karya melalui pemutaran film keliling dari satu rumah ke rumah yang lain menyasar keluarga-keluarga yang secara terbuka bersedia membahas isu keluarganya. Selain bisa jadi bahan diskusi, film Rumah Bitha yang dibuat dengan harapan bisa menjadi bahan refleksi saat menontonnya ini, juga diharapkan mampu menjadi sarana bercermin bersama guna terciptanya dialog mengenai permasalahan-permasalahan perempuan Indonesia. Presentasi ini bersifat intim dan hangat seperti teman mengunjungi temannya, menonton film bersama dan saling bertukar kabar mengenai keluarga di ruang tengah atau ruang makan sebagaimana perihal keluarga biasa dibicarakan di sana. Presentasi karya ini nantinya dapat saya lanjutkan sebagai hasil refleksi dari perjalanan saya dalam bentuk pameran atau public sharing.

Kategori

perjalanan

Latar Belakang Proyek

Secara personal, saya ingin bisa “ngobrolin” tentang keluarga. Kadang, buat sebagian orang (termasuk saya), membicarakan perihal keluarga tetangga lebih mudah daripada membicarakan keluarga sendiri. Seringkali kita lebih senang menampilkan bahwa “keluarga kita dalam keadaan baik-baik saja,” dan menutup rapat-rapat rahasia keluarga di balik pintu rumah—karena akan menjadi “aib” dan tabu jika dibuka. Lewat media film fiksi yang saya buat dan presentasi karya ini, saya seperti seorang teman yang ingin bisa mengetuk pintu rumahmu dan masuk ke dalamnya—tidak lagi hanya mengintip dari jendela rumah saya. Saya hanya ingin bertanya kabar dengan hangat, “Bagaimana keluargamu hari ini? Baik?” Pertengahan tahun 2012, saya bersama dua rekan seniman dari disiplin berbeda menginisiasi sebuah proyek bertema “Keluarga/Berkeluarga”. Sejak saat itu obrolan dan berbagi cerita perihal keluarga bergulir bersama beberapa pasangan keluarga kecil yang tinggal di Yogyakarta. Berangkat dari refleksi atas sejarah dan kenangan atas keluarga, lalu perjumpaan saya dengan beberapa perempuan sebagai responden dalam proyek tersebut, melahirkan sebuah karya film pendek fiksi pertama saya tentang keluarga yang berjudul “Rumah Bitha”. Film ini belum selesai dan terhenti di tahap post production karena keterbatasan dana. Sehingga, presentasi karya yang saya angankan terjadi seperti dalam proyek “Dialog Rumah Tangga” ini belum terwujud.

Masalah yang Diangkat

1. Di Indonesia, sebagian besar masyarakatnya masih memiliki norma yang menganggap tabu untuk menceritakan rahasia atau permasalahan yang terjadi di dalam kehidupan rumah tangga. Sementara, kebutuhan untuk berbagi atau bertemu dengan rekan atau teman senasib sepenanggungan itu ada. Kebutuhan untuk menemukan suatu tempat / penyaluran. Hal tersebut dapat dilihat dari kecenderungan masyarakat masa kini membeberkan rahasia yang terjadi di dalam rumahnya pada dinding jendela laman sosial medianya. 2. Perempuan, dalam berbagai kasus permasalahan dalam rumah tangga yang saya temui seringkali menempati posisi yang tampaknya lemah, padahal sesungguhnya ia adalah pemegang kunci utama dalam menyiasati persoalan rumah tangganya. Hal tersebut tidak akan tampak dari luar karena persoalan rumah tangga adalah persoalan di ruang privat. 3. Perempuan sebagai individu butuh teman perempuan lain sebagai cermin yang saling menguatkan, menginspirasi, mendorong, dan membuat menjadi berdaya. Hal tersebut hanya terjadi jika para perempuan saling bertemu, berkumpul, berbagi kisah dan dapat mengambil refleksi atas persoalan yang terjadi dalam hidupnya, rumah tangganya atau keluarganya.

Durasi Proyek

6 bulan

Indikator Sukses

1. Tahapan paska produksi karya film pendek “Rumah Bitha” yang menjadi alat untuk mewujudkan presentasi karya proyek “Dialog Rumah Tangga” selesai. 2. Presentasi karya “Dialog Rumah Tangga” yang berupa pemutaran keliling ke rumah-rumah keluarga terpilih di tiga kota (Jakarta, Bandung, Yogyakarta) dalam rangka menciptakan dialog tentang permasalahan keluarga dapat terlaksana. 3. Terkumpul responden perempuan (yang berumah tangga / berkeluarga) yang bersedia menjadi tuan rumah sekaligus narasumber atas isu yang diangkat dan terlibat dalam terciptanya “Dialog Rumah Tangga” ini. Minimal ada 5 perempuan lintas generasi mewakili keluarganya terlibat dalam proyek ini. 4. Ada public sharing atau pameran sebagai tidak lanjut presentasi karya sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas dan tercipta dialog yang lebih banyak respondennya. 5. Ada perempuan-perempuan yang menjadi terinspirasi atau merasa terkuatkan setelah berefleksi pada cerita keluarga lain selama proyek karya ini berlangsung.

Dana Hibah

Rp.101.7 Juta