Pemohon Hibah

INGGIT PUTRIA MARGA, S.P.


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

sastra

Pengalaman Berkarya

13 tahun

Situs Web

Media Sosial

Facebook: inggit putria marga

Proyek


No. Formulir

203

Judul Proyek

MENYULAM PUISI DENGAN BENANG TAPIS

Lokasi Proyek

Provinsi Lampung

Deskripsi Proyek

Proyek ini bertujuan menyingkap nilai filosofis, agama, sosial, budaya, ekonomi yang terkandung di selembar kain tapis ke bentuk puisi. tiap puisi akan mengangkat ragam nilai dari motif masing-masing tapis sebagai tema yang dibahas, selain itu akan merespon bentuk, sejarah, nilai filosofi, ekologi social–kultural di mana tiap tapis terlahir, puisi akan ditulis dalam gaya liris, naratif, tetapi tidak menutup kemungkinan mengeksplorasi bentuk lain, bila pada saat pengerjaan, dibutuhkan bentuk-bentuk lain untuk mewadahi ide/tema. Meski proyek ini ada di ranah sastra, tetapi juga bersinggungan/berpantulan dengan seni rupa dan kriya sebagai habitat asal tapis. aktivitas/kegiatan yang akan dilakukan adalah: 1. Observasi. Melakukan pengamatan langsung pembuatan tapis di beberapa wilayah ke-buay-an, yakni kelompok masyarakat lampung dengan tata cara hidup diatur oleh norma adat tertentu. Dalam melakukan riset, penyair akan dibantu oleh 2 orang (pewancara dan fotografi), durasi: 1 bulan 2. Wawancara. Proses wawancara dilakukan kepada pembuat tapis, tokoh adat lampung, dan beberapa ahli dari golongan akademisi. Durasi: 1 bulan 3. Focus Group Discussion (FGD). Acara FGD dihadiri oleh stakeholders dari berbagai kalangan dengan dipandu oleh seorang fasilitator. Durasi: 2 minggu 4. Studi Pustaka. Durasi 2 minggu 5. Penulisan Puisi. Durasi: 6 bulan 6. Peluncuran Buku Puisi.

Kategori

riset_kajian_kuratorial

Latar Belakang Proyek

Tapis Lampung termasuk kerajian tradisional karena peralatan yang digunakan dalam membuat kain dasar dan motif-motif hiasnya masih sederhana dan dikerjakan oleh pengerajin. Kerajinan ini dibuat oleh wanita, baik ibu rumah tangga maupun gadis-gadis yang pada mulanya untuk mengisi waktu senggang dengan tujuan untuk memenuhi tuntutan adat istiadat yang dianggap sakral. Kain Tapis saat ini diproduksi oleh pengrajin dengan ragam hias yang bermacam-macam sebagai barang komoditi yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Secara umum kain tapis terdiri dari 2 jenis: tapis masyarakat pepadun dan tapis masyarakat pesisir. Dari 2 jenis tapis tersebut terbagi lagi berbagai jenis tapis, yang masing-masing memiliki motif tersendiri yang khas, serta memiliki fungsi yang berbeda, juga pemakai dengan status sosial dan ekonomi yang berbeda. Kurangnya tereksplornya nilai-nilai yang terkandung dalam kain tapis membuat tapis selama ini lebih banyak dikenal sebagai kain hiasan, padahal menurut sejumlah referensi, pada awal mula tapis dibuat adalah untuk menyelaraskan kehidupan dengan alam dan tuhan, masuknya agama islam, perkembangan tekhnologi dan jaman memperkaya ragam motif tapis dari masa ke masa, sehingga tapis sesungguhnya adalah salah satu benda budaya, selain juga merupakan salah satu saksi perkembangan peradaban di provinsi Lampung yang terus berdenyut dan berubah.

Masalah yang Diangkat

1. nilai-nilai filosofis, agama, budaya, sosial, ekonomi yang terkandung dalam motif-motif kain tapis. 2. Mengangkat sejarah yang melatar belakangi terciptanya masing-masing motif tapis. 3. Mengangkat konten (tema, filosofi), ekologi sosial-kultural di mana tapis-tapis tersebut lahir. 4. Mengangkat hal-hal apa yang melatarbelakangi perbedaan “kasta” tapis mengingat tapis terdiri dari berbagai jenis yang masing-masing memiliki level fungsi dan level satus sosial yang berbeda. Menyingkap nilai-nilai tersebut lalu diterjemahkan ke dalam bentuk puisi, adalah salah satu upaya menyebarluaskan dan melestarikan falsafah hidup masyarakat Lampung yang terkandung dalam selembar tapis dengan cara yang lain.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

1. Terbitnya kumpulan puisi yang menuliskan tentang ragam jenis tapis lampung Yang disertai dengan foto masing-masing kain tapis yang dimaksud 2. Diadakannya peluncuran buku dan diskusi buku tersebut dengan melibatkan Para pengrajin, tetua adat, desainer, sastrawan, budayawan, dosen, dan masyarakat.

Dana Hibah

Rp.150 Juta