Pemohon Hibah

Wahyu Utami Wati


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

audiovisual

Pengalaman Berkarya

8 tahun

Situs Web

Media Sosial

@majujalanproject

Proyek


No. Formulir

936

Judul Proyek

Kembali ke Timur, Mendekati Matahari Terbit.

Lokasi Proyek

Flores, Nusa Tenggara Timur

Deskripsi Proyek

Kembali ke Timur, Mendekati Matahari Terbit adalah perjalanan saya untuk kembali berbagi bersama masyarakat Flores. Proyek ini memiliki tiga tujuan: pemutaran dan diskusi, maintenance alat-alat video dan riset. 1) Pemutaran dan diskusi a. Film Welu De Fasli Potret aktifitas memecah kemiri yang dilakukan oleh keluarga Fasli di desa Golo Wangkung, Manggarai Timur. Diputer di berbagai festival, tapi belum di desa Golo Wangkung sendiri. [International Competition ARKIPEL 2017, Official Selection JAFF 2017] b. Film Distra Budaya Potret kelompok Kethoprak difabel netra di Yogyakarta yang memberikan cara pandang yang berbeda melihat difabel, serta menyemangati teman-teman difabel untuk terus berkarya. [Film Dokumenter Pendek Terbaik FFI 2017] c. Film Maja’s Boat Film pendek impresi residensi saya di Jerman (2017). Menceritakan aktifitas menangkap ikan di perdesaan di Jerman. Pemutaran di minimal tiga desa Komunitas Kreatif bertujuan berbagi inspirasi dan ide-ide kepada komunitas video lokal untuk memanfaatkan alat video yang ada. 2) Maitenance peralatan yang ada disana. Saya akan melakukan maintenance peralatan video komunitas lokal di minimal tiga desa. 3) Melakukan riset. Saat menjadi fasilitator Komunitas Kreatif, saya menemukan beberapa cerita unik yang berpotensi untuk dikembangkan. Selama berada di Flores saya akan melakukan riset lebih dalam untuk ide-ide film tersebut.

Kategori

perjalanan

Latar Belakang Proyek

Oktober 2014 sampai April 2015 saya menjadi fasilitator video untuk Komunitas Kreatif, Yayasan Kelola. Program pemberdayaan ini dijalankan di delapan desa di Flores dan berhasil menciptakan komunitas video lokal yang masih berkelanjutan. Komunitas video lokal memiliki kamera video, laptop serta alat-alat lainya untuk memproduksikan video secara mandiri. Dikarenakan keterbatasan informasi dan referensi kawan-kawan di desa tersebut, penggunaan peralatan tersebut masih belum maksimal. Pengalaman pernah tinggal berbulan-bulan di Flores dan keakraban saya dengan komunitas video lokal memberikan peluang lebih untuk memberikan referensi dan memberdayakan masyarakat lokal secara efektif. Keinginan untuk kembali dan berbagi inspirasi, menjadi latar belakang utama proyek ini.

Masalah yang Diangkat

1) Keterbatasan informasi dan referensi kawan-kawan komunitas video lokal di Flores membuat penggunaan peralatan video menjadi kurang maksimal. Kehadiran saya selama beberapa hari di setiap desa akan dimanfaatkan untuk memberdayakan dan membantu anggota komunitas video. 2) Karena tidak ada signal atau internet di desa, software untuk editing video dan software lain dalam laptop komunitas video perlu di-update, serta kamera video perlu dibersihkan. 3) Kearifan lokal dan budaya setempat di Flores layak diangkat. Di desa Malanuza ada kelompok orkes seruling bambu, dengan alat musik yang semuanya terbuat secara tradisional dari bambu. Orkes ini beranggotakan orang tua. Dulu setiap upacara atau pesta, grup seruling bambu ini selalu mengiringi orang menari. Namun, saat ini eksistensi orkes seruling bambu sudah mulai tergeser dengan adanya mp3. Melalui film dokumenter saya ingin angkat budaya lokal ini.

Durasi Proyek

6 bulan

Indikator Sukses

1) Anggota komunitas video lokal bergerak untuk mulai memproduksi film baru, berdasar inspirasi yang didapat melalui pemutaran dan diskusi film saya. 2) Semua peralatan dan software yang dibutuhkan untuk memproduksikan video berfungsi secara optimal setelah dilakukannya maintenance. 3) Telah mendapatkan seluruh footage dan data yang dibutuhkan untuk membuat teaser dan mengikuti sesi pitching untuk memulai produksi film dokumenter baru mengenai budaya lokal Flores.

Dana Hibah

Rp.148 Juta