Pemohon Hibah

Kamila Andinisari


Riwayat Berkarya

Bidang Seni yang Ditekuni

audiovisual

Pengalaman Berkarya

Film panjang The Mirror Never Lies, Film Pendek Sendiri Diana Sendiri, Film pendek Memoria, Film panjang Sekala Niskala, Instalasi Sekala Niskala, Buku Laut Bercermin

Situs Web

https://we.tl/XQjo1wC4cn

Media Sosial

@kamilandini @theseenandunseen

Proyek


No. Formulir

955

Judul Proyek

MAHKOTA

Lokasi Proyek

Bali

Deskripsi Proyek

Proyek ini adalah bagian dari pembuatan film saya berikutnya yang berjudul mahkota. Film ini bercerita tentang dua orang perempuan di sebuah pondok pembodohan (pondok yang disediakan untuk perempuan tinggali selama mereka haid atau akan melahirkan di bali masa lampau). Film ini bercerita tentang masa-masa saat dua perempuan itu haid dan juga akan melahirkan. Film ini berbicara tentang unsur dan tubuh perempuan, rambut, darah, ari-ari, plasenta, ketuban, hubungan nya dengan relasi diri dan kehidupan. Saya ingin memvisualisasikan dengan cerita sederhana koneksi perempuan dengan kehidupan, melalui fase-fase yang dialami tubuhnya. Dalam film ini kami membutuhkan properti sebagai visualisasi semua unsur tersebut. Dan dalam produksi sebuah film biasanya elemen artistik itu adalah elemen yang paling mahal, dan biasa tidak diberikan cukup waktu untuk membangun visualisasinya secara kreatif. Ini kolaborasi yang cukup jarang di sinema Indonesia. Memberikan lebih banyak ruang pada penata artistik untuk melakukan eksplorasi pada elemen properti sebagai bagian dari visualisasi ide film yang sulit dideskripsikan.

Kategori

kerjasama_kolaborasi

Latar Belakang Proyek

Ini adalah film ketiga saya bersama seorang production desainer perempuan di Indonesia, yang masih tergolong sedikit, Vida Sylvia. Di film-film kami sebelumnya, kami tidak pernah punya kesempatan untuk mengolah elemen artistik dan visual properti dalam film lebih jauh dari fungsinya sebagai setting adegan. Ide dari proyek film ini membuka ruang yang lebih dalam untuk kolaborasi kami. Setelah film-film saya sebelumnya, saya ingin sekali memvisualisasikan perempuan seutuhnya, selugas-lugasnya. Elemen artistic dalam sebuah film sangat menarik untuk saya kedepankan, dan bisa menjadi cara untuk mendeskripsikan apa yang ingin saya sampaikan. Ide ini kemudian muncul. Tapi saya tau film seperti ini bukan film yang mudah untuk dibuat. Dalam film Mahkota, hal yang kami butuhkan adalah memiliki properti untuk menunjukan Ari-ari, plasenta, ketuban dan darah secara visual. Dan biasanya dalam film bagian ini yang membutuhkan dana karena kami harus membuat dan mengeksplor visualisasi tersebut. Hibah seni ini akan mampu membantu kami dalam mengedepankan unsur visual artistic dalam sebuah film yang detail dan belum pernah ditunjukan sebelumnya.

Masalah yang Diangkat

Sebagai perempuan, dan sebagai seorang ibu, saya merasa ada dualisme dalam diri kami, kami adalah gabungan antara kasar dan halus, dingin dan hangat. Dalam visualisasi pun seperti ini, kami selalu diidentifikasikan sebagai symbol keindahan, kecantikan, meskipun sebetulnya banyak yang kami ‘tutupi’ didalam tubuh kami; amis, darah, ketuban, ari-ari, plasenta. Hal-hal yang tidak ditutupi itu menjijikan, menyeramkan, bahkan perempuan pun mungkin malas melihatnya. Tapi hal-hal itu adalah bagian yang sangat esensial dalam kehidupan, hal-hal tersebut adalah bibit kehidupan. Dalam film ini kami ingin melakukan eksplorasi dalam memvisualisasikan unsur-unsur dalam tubuh perempuan seperti Darah, Ketuban, Ari-ari, plasenta, rambut dengan indah dan subtil, alami. Kami ingin mengajak masyarakat untuk masuk ke ruang tubuh perempuan dan merasakan kehidupan di dalamnya.

Durasi Proyek

9 bulan

Indikator Sukses

Secara teknis indikator sukses kolaborasi kami adalah saat kami berhasil memiliki properti unsur-unsur tubuh wanita untuk bisa kami rekam kedalam film. Tapi kami juga berharap visualisasi yang kami jelajahi tidak hanya berakhir di film. Tapi memungkinkan untuk di buat dalam medium seni yang lain seperti instalasi dalam seni rupa. Secara kreatif indikator sukses kami adalah saat kami berhasil memvisualisasikan unsur dari tubuh perempuan yang selama ini ‘ditutupi’ karena bisa dibilang menjijikan atau menyeramkan. Dengan sangat alami, indah dan subtil sehingga penonton dapat merasakan bagiannya dalam kehidupan

Dana Hibah

Rp.135 Juta