Village Video Voice (V3)

212

212 - Village Video Voice (V3)

Village Video Voice (V3), yaitu sebuah gerakan anak muda kampung yang menggunakan video dari seluler (handphone) untuk menyuarakan berbagai persoalan maupun ide mereka terkait dengan isu konservasi Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang terletak di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Karena itu, proyek ini akan dilaksanakan di 10 desa yang berada dan di dalam sekitar kawasan TNGP di 2 kabupaten tersebut. Tujuan: – Meningkatnya jumlah pemilik handphone yang memanfaat alat komunikasi tersebut untuk membuat video tentang persoalan dan ide terkait konservasi Taman Nasional Gunung Palong di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat melalui media sosial di internet. – Mengubah cara pandang masyarakat terutama anak muda pengguna gadget (handphone) yang selama ini hanya untuk berkomunikasi saja (SMS dan telepon), sekarang menjadikannya sebagai media untuk menyuarakan pikiran, pendapat, dan gagasan kepada pemangku kepentingan, serta publik secara luas. – Mengubah perilaku bermedia anak muda di sekitar dan di dalam kawasan TNGP, di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang.

Nomor:
212

Nama Lengkap Inisiator:
Donatus Budiono

Lokasi:
Kalimantan BaratKalimantan Barat

Organisasi:
Mata Enggang

Judul Proyek:
Village Video Voice (V3)

Lama Aktivitas:
12 Bulan

Target Pengguna / Penerima Manfaat:
Perubahan sosial- intervensi proyek dengan menggunakan HP sebagai media utama akan mengubah cara pandang masyarakat, terutama anak muda yang menggunakan HP hanya sebagai sarana komunikasi terbatas, sekarang bisa bermanfaat lebih dari itu, yaitu sebagai alat untuk menyuarakan pikiran dan pendapat mereka kepada pemangku kepentingan dan publik. Melalui publikasi video sederhana yang diproduksi dengan HP, juga akan mengubah perilaku bermedia anak muda di kedua kabupaten tersebut, karena mereka merasa memiliki cara dan mekanisme untuk berpartisipasi pada tiap isu konservasi, maupun yang terkait langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini juga akan membuat para pengambil keputusan dan pelaksana pembanguan untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya di lapangan. Sebab melalui HP, publik sudah langsung bisa melakukan kontrol sosial.

Ukuran Keberhasilan:
Indikator Keberhasilan:
1. Terpublikasinya satu situs agregate V3
2. Terpublikasinya minimal 100 video karya videografer kampung berbasis HP di youtube.
3. Terlatihnya 100 videografer kampung yang bisa membuat story line sederhana, merekam, mengedit videonya dengan HP dan meng-upload ke internet.
4. Meningkatnya jumlah videografer kampung sekitar dan di dalam kawasan TNGP dari 1 menjadi 100 orang
5. Terpublikasinya 1.000 keping CD/DVD kompilasi 10 film kampung terbaik berikut tutorial pembuatan video kampung menggunakan HP.
6. Terselenggaranya 1 kali seminar dan festival film kampung.

Tipe Konten:
Intervensi proram V3 ini diharapkan sebagai salah satu mekanisme favorit sebagai visual media bagi orang muda untuk menyampaikan pendapat mereka, kritik bahkan pikiran mereka supaya didengar, terutama tentang bagaimana seharusnya pembangunan yang terkait dengan isu konservasi di desa mereka dilakukan dengan semestinya.
Selain itu juga diharapkan bisa menjadi pemicu kesadaran para pelaku jurnalisme warga berbasis video di level desa, kabupaten, nasional bahkan internasional untuk bisa berpartisipasi aktif dalam mengawasi kawasan TNGP yang bukan saja menjadi milik warga setempat, tetapi juga menjadi warisan dunia karena keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya, termasuk ribuan orangutan.
Program ini juga diharapkan bisa meningkatkan kapasitas 100 pelaku jurnalisme warga berbasis video handphone, yang sangat gampang dibuat dan dipublikasikan melalui internet.

Strategi Distribusi:
Membuat 1 situs aggregate Village Video Voice (V3) untuk mengkompilasi publikasi video para videomaker kampung.<br /> Membuat DVD Antologi 10 film kampung terbaik, dari hasil screening pada tingkat kabupaten.

Kuantitas Output Konten:
Mencetak dan mengedarkan 10 film kampung terbaik berikut modul tutorial pembuatan video kampung menggunakan handphone dalam kemasan 500 keping CD/VCD maupun e-book kepada SKPD di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara, 15 kepala desa yang terletak di dalam dan di sekitar hutan, NGO lokal yang bekerja pada isu konservasi, Kantor TNGP, private sectors dan terutama kepada masyarakat kampung pemilik film tersebut.

Dana yang Diminta:
Rp. 810 Juta

Deskripsi Proyek:
Village Video Voice (V3), yaitu sebuah gerakan anak muda kampung yang menggunakan video dari seluler (handphone) untuk menyuarakan berbagai persoalan maupun ide mereka terkait dengan isu konservasi Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) yang terletak di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Karena itu, proyek ini akan dilaksanakan di 10 desa yang berada dan di dalam sekitar kawasan TNGP di 2 kabupaten tersebut.<br /> Tujuan:<br /> – Meningkatnya jumlah pemilik handphone yang memanfaat alat komunikasi tersebut untuk membuat video tentang persoalan dan ide terkait konservasi Taman Nasional Gunung Palong di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat melalui media sosial di internet.<br /> – Mengubah cara pandang masyarakat terutama anak muda pengguna gadget (handphone) yang selama ini hanya untuk berkomunikasi saja (SMS dan telepon), sekarang menjadikannya sebagai media untuk menyuarakan pikiran, pendapat, dan gagasan kepada pemangku kepentingan, serta publik secara luas.<br /> – Mengubah perilaku bermedia anak muda di sekitar dan di dalam kawasan TNGP, di Kabupaten Kayong Utara dan Kabupaten Ketapang.

Definisi Masalah:
Anak muda di dalam dan di sekitar Gunung Palung hanya menjadi obyek program pemerintah. NGO yang bekerja pada isu konservasi belum maksimal melibatkan mereka. Padahal merekalah pewaris kawasan konservasi yang ditetapkan Menhut melalui SK 721/Menhut-II/2010. Kendati HP dan internet masuk kampung, mereka belum memanfaatkan sebagai sarana penyampaian pendapat. Meski merekam video via HP, hanya sebatas iseng (Assesment Mata Enggang, 14-16 Des 2013, saat Community Jurnalistic Training oleh USAID IFACS di Sukadana). Mata Enggang (ME) mengembangkan jurnalisme kampung oleh Alexander Mering (2007). ME bersama anak muda di Sui. Ambawang (Kubu Raya) dan Sukadana (Kayong Utara) membuat film sederhana menggunakan HP untuk komunitas.<br /> Persoalan yang ingin diatasi: Warga 10 desa di sekitar dan di dalam kawasan TNGP belum punya media untuk menyampaikan pendapat, ide, dan kontrol terhadap kebijakan TNGP. HP untuk SMS, menelepon, foto dan video hanya narsis. Media belum memberi ruang bagi orang muda.

Cara Mengatasi:
Aksi yang akan dilakukan:<br /> – Peningkatan kapasitas 100 orang muda di 10 desa di 2 kabupaten: Sejahtera, Simpang Tiga, Sutra, Pampang Harapan, Pangkalan Buton, Harapan Mulia, Benawai Agung, Sedahan, Seponti Jaya dan Rantau Panjang.<br /> Pelaksanaan proyek:<br /> – Menggunakan HP utk merekam, editing dan upload video ke youtube.<br /> – Metodologi mengajarkan teknik videografi (footage & story line) menggunakan jurnalisme kampung yang menekankan isu lokal dengan memodifikasi 5W+H jadi ADISIKAMBA (Apa, Di mana, Siapa, Kapan, Mengapa, Bagaimana).<br /> – Software editing video sesuai gadget peserta.<br /> – Menggunakan pendekatan prinsip belajar bersama orang muda di 10 desa, yang tergabung di sispala sekolah, multistakeholder forum yang diinisiasi USAID IFACS, dan anak muda binaan NGO lokal. Kegiatan dimulai screening tingkat desa, memunculkan 5 nominasi film, lalu seminar & Festival Film Kampung.<br /> – Film teragregasi ke situs khusus dan mudah diakses publik.<br /> – Modul tutorial bisa diunduh secara gratis.

Perkembangan Proyek